Jatuhnya Chiang Kai-shek adalah bukti bagaimamãng cầu korupđam mê kaum nasionalis dan kebijakan populis orang komunis memengaruhi hasil perang sipil.

Bạn đang xem: Chiang kai shek là ai


tirkhổng lồ.id - Hari-hari di bulan Oktober 1948 mungkin menjadi hari-hari terakhir optimisme Chiang Kai-shek. Sebelumnya ia tetap yakin bahwa kaum nasionalis di Partai Kuomintang (KMT) masih mampu bertahan dan menang dalam perang sipil melawan kubu komunis Cina. Sayang beribu sayang, optimisme Chiang padomain authority akhirnya berujung semu. Seperti ditulis Harold M. Tanner dalam Where Chiang Kai-Shek Lost China: The Liao-Shen Campaign (2015), optimisme tetap adomain authority dalam diri Chiang meski pada Jumat, 15 Oktober 1948 ia mengetahui bahwa pihak komunis telah sepenuhnya mengalahkan Jenderal Fan Hanjie yang memimpin kubu nasionalis di kota Jinzhou. Menanggapi jatuhnya Jinzhou, dalam buku hariannya Chiang menuliskan: “Musuh tidak sekuat itu, harusnya akan mudah untuk memulihkan ” (hlm. 251).
Namun sejarah membuktikan bahwa optimisme Chiang adalah deluđắm say. Jatuhnya Jinzhou menjadi salah satu dari rangkaian awal kekalahan Chiang terhadap Mao Zedong dan Partai Komunis Cimãng cầu yang kelak mendirikan Republik Rakyat Cimãng cầu. Padomain authority hari yang sama, Chiang melarikan diri ke Shenyang bersama jenderal Du Yuning. Padomain authority akhir 1948 Chiang mulai menyadari bahwa pihak nasionalis dalam posimê say yang terdesak. “Berbagai laporan kekalahan perang berdatangan layaknya salju yang jatuh,” tulis Chiang seperti dikutip Jay Taylor dalam The Generalissimo: Chiang Kai-shek và the Struggle for Modern Trung Quốc (2009: 397). “Cimãng cầu bagian Utara dan wilayah di bawah tembok berada di ambang kehancuran.” Ia menyimpulkan, seiring dengan runtuhnya jalur kereta api antara Kaifeng dan Chengchow, bahwa negara Cimãng cầu yang ia pimpin telah beradomain authority di ujung senja. “Negara ini sudah mati,” sebutnya. Namun ia tetap bangga akan pemerintahannya. Di tengah segala kekacuan yang timbul akibat perang sipil tersebut, ia mengklaim bahwa dirinya tidak pernah bersantai satu hari pun. Keberhasilan membangun rel kereta dari Zhejiang ke Jiangxi serta sejumlah bendungan, menurutnya, adalah salah satu bukti keberhasilan pemerintahannya. “Kita harus memiliki suatu pencapaian <...> Tidak peduli dalam keadaan apapun,” simpul Chiang. “Saya tidak merasa bersalah. Saya mencoba yang terbaik.”

Diktator Keras Kepala dan Perang Sipil Cina

Seperti dilansir Encyclopaedia Britannica, Chiang lahir pada 31 Oktober 1887, di provinham mê Chekiang dan memiliki nama resmi Chiang Chung-cheng. Keluarganya merupakan keluarga pedagang dan petani yang cukup sejahtera. Karier Chiang dimulai dari pendidikan yang ia jalani di Akadengươi Militer Paoting di Cimãng cầu bagian utara dan kemudian berpindah ke Jepang dari 1906 hingga 1911. Padomain authority 1911, ketika mendengar kemunculan gerakan revolumê man di Cina, Chiang kembali ke tanah kelahirannya dan turut berperan dalam perang yang menjungkalkan Dinasti Qing. Ia kemudian membantu kubu Republikan Cimãng cầu dan gerakan revolutê mê lainnya pada 1931 hingga 1916 untuk melawan presiden baru Cimãng cầu, Yuan Shikai. Pada 1915 hingga 1916 Shikai memproklamasikan diri sebasợi kaisar baru Cimãng cầu. Chiang kemudian bergabung dengan KMT padomain authority 1918 setelah hampir dua tahun menghilang dari publik dan disinyalir bergabung dengan Qing Bang, sebuah kelompok rahasia yang terlibat dalam praktik manipulaham mê keuangan. Dilaporkan BBC, Chiang kemudian diangkat Sun Yat-sen, pemimpin KMT, sebasợi komandan Sekolah Militer Whampoa di Canton pada 1924, di mana ia kemudian membangun tentara Nasionalis. Pada saat Sun wafat pada 1925, ia menjadi pemimpin KMT. Ia adalah tokoh yang menginisiasay mê Ekspediham mê Utara yang menyatukan kembali sebagian besar Cimãng cầu di bawah Pemerintah Nasional yang berbasis di Nanjing. Setelah kejatuhan Dinasti Qing, Cina mecó banyak terpecah dalam kekuasaan para panglima milisay đắm lokal. Sejak kematian Sun, tensi mê antara kaum komunis Cimãng cầu, yang kala itu mevới telah masuk dalam KMT pasca-Dinasti Qing, dengan kaum konservatif di partai tersebut meningkat. Menurut Jay Taylor, Chiang kemudian menempatkan kaum komunis sebagai musuh yang harus dibasmi setelah adomain authority upaya pihak komunis dalam partai untuk menyingkirkan dirinya (hlm. 64).
Masih menurut Taylor, pada 6 April 1927, Komite Pengawas KMT secara menyeluruh sepakat untuk mengeluarkan para komunis dari partai tersebut dan membentuk grup koordinađam mê khusus bernama Komite Pembasmian Shanghai untuk melakukan akđê mê tersebut. Perang sipil antara komunis dan nasionalis kemudian dimulai pada 12 April tahun yang sama setelah KMT memburu dan membunuh ratusan orang komunis. Menurut Chen Lifu, sekretaris rahasia Chiang kala itu, pembasmian ini dilakukan KMT dengan cara yang sadis. “Itu merupakan cara yang haus darah untuk menghilangkan musuh di dalam . Saya harus mengakui bahwa banyak orang tidak bersalah terbunuh,” sebut Chen puluhan tahun kemudian (hlm. 68). Tragedi ini kemudian mengawali perang sipil yang mendera Cina sepanjang 22 tahun.

Xem thêm: Nhóm Nhạc Tam Ca Pkl Là Ai, 'Hà Nội Của Bố' Có Gì Hay

Kekalahan dari Komunis dan Mao Zedong

Kembali ke akhir 1948, tanda-tanda kekalahan KMT dan Chiang terhadap kubu komunis menjadi semakin nyata setelah jenderal komunis Lin Biao berhasil membekuk pasukan KMT yang dipimpin Liao Yaoxiang pada 27 Oktober.Taylor mencatat, melalui jatuhnya Jinzhou serta pemberontakan dan kekalahan sejumlah pasukan kubu Nasionalis di Changchun dan dibasminya pasukan Liao, Chiang telah kehilangan total 32 divisi militer sejak 15 Oktober. “Ini merupakan kekalahan terbesar dan rasa malu terbesar dalam hidup saya,” sebut Chiang (hlm. 261). Apage authority yang menyebabkan kekalahan tersebut? Adomain authority banyak faktor. Namun Chiang menyebutkan dalam catatan pribadinya bahwa peran para jenderalnya yang tidak kompeten dan terlibat dalam praktik koruptê mê merupakan salah satu hal utama yang menyebabkan kekalahan KMT. Mengutip wawancara jurnalis Jerman Gunther Stein dengan panglima sipil provinđắm say Shanxi, Yan Xishan, dalam buku The Challenge of Red Trung Quốc (1945), Aris Teon menuliskan, salah satu alasan utama mengapage authority komunis memiliki kekuatan luar biasa di Cina kala itu adalah karena banyak orang mengikuti mereka. “Dan alasan mengapa mereka mengikuti adalah karemãng cầu pemerintahan kita, pemerintahan nasionalis, buruk,” sebutnya.

Korupđắm đuối memang menjadi musuh besar KMT dalam melawan komunis Cina dan Chiang sadar akan hal ini. Masih oleh Teon, mengutip Llyod E. Eastman dalam The Abortive Revolution: Đài Loan Trung Quốc Under Nationadanh sách Rule, 1927-1937 (1974), Chiang mengakui bahwa korupmê mẩn telah menjadi praktik umum di kalangan pejabat pemerintahan dan membuat pemerintahan “menjadi busuk.” Kubu Komunis yang dipimpin Mao Zedong, sebaliknya, berusaha memenangkan hati rakyat kecil, utamanya buruh tani, yang berujung pada semakin populernya Partai Komunis Cina. Selain koruptê mê, sebab kekalahan KMT boleh jadi karemãng cầu kejelian atau kelicikan strategi Mao dalam menghimpun kekuachảy pasukan komunis. Robert M. Kaplan dalam esainya di Foreign Policy menuliskan, Mao menggunakan strategi yang kerap dituduhkan pihak Barat kepadomain authority Chiang: menghindari perang besar-besaran dengan Jepang untuk mengumpulkan kekuachảy mereka agar dapat digunakan melawan kubu Nasionalis. Sebaliknya, Chiang kehilangan banyak pasukan. Setelah perang dengan Jepang yang berlangsung selama 14 tahun, sebanyak 80.000 prajurit Cimãng cầu terbunuh dan terluka dan sekitar 90 persen di antaranya merupakan pasukan Chiang. Sebatua catachảy, semasa kepemimpinan Chiang, Jepang mesở hữu juga menjadi ancaman sejak melakukan invamê mệt ke Cimãng cầu pada 1931. Pada 1949 komunis memenangkan pertempuran sipil tersebut dan mendirikan Republik Rakyat Cina, sementara Chiang dan sisa kekuarã KMT terpaksa mengungsi ke Puvệ sinh Formosa (Taiwan). Di samãng cầu, Chiang mendirikan pemerintahan Republik Cina yang ia pimpin selama 25 tahun. Pemerintahan inilah yang tetap diakui oleh negara-negara Barat sebagai pemerintahan resngươi Cimãng cầu hingga Chiang meninggal pada 5 April 1975, tepat hari ini 44 tahun lalu.
Bài viết liên quan

Trả lời

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *